Rabu, 15 Agustus 2012

Ramadhan .... yo Ramadhan


Hallo ry, ku tulis lagi dirimu ya.. Malam kemarin aku bersama keluarga seperti biasa ry, berangkat ke masjid untuk mendirikan shalat ‘isya dan tarawih berjamaah. Alhamdulillah ry, masjid masih dikunjungi masyarakat dengan kuantitas yang makin maju, ya shaf shalatnya makin maju ke depan. Hehehe.

Seperti biasa juga ry, selepas shalat ‘isya ustadz naik mimbar untuk menyampaikan tausiyah yang subhanallah kali ini sangat menyentuh hati ku dan aku yakin hati para jama’ah yang lain juga. Ustadznya keren ry. Hihihihi

“Assalaamu’alaykum wr.wb”, salam dari ustadz yang bersemangat kala membuka tausiyah.

“Wa’alaykumussalaam wr.wb”, jawab jama’ah yang tak kalah semangatnya, termasuk aku.hihihi

“Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil’alamin, washshalatuwassalam ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, asyhadu’allaa ilaha illallah wa asyhadu’annamuhammadurrasulullah. Bapak-bapak, ibu-ibu, serta hadirin jama’ah shalat tarawih yang dimuliakan Allah, Insya Allah. Malam ini malam ke-14, Alhamdulillah kita masih bisa jumpa ya Pak, ya Buk, adik-adik sekalian. Kali ini kita ada kemajuan ya Pak, Buk, ya, maju kali. Yah, maju kali shafnya, maju ke-depan, Alhamdulillah. Saudara kita yang sedang sakit semoga cepat sembuh, yang sedang sibuk semoga dimudahkan urusannya, dan yang sedang nonton tv semoga tvnya rusak, nah loh, tidak boleh kalau yang ini. Ya pak buk ya? Tidak boleh do’a yang buruk-buruk”.

“hehehe, yaaaa”. Sahut jama’ah.

“Pak, Buk, jama’ah sekalian, saya nak Tanya sama bapak, ibu, dan hadirin sekalian ya. Sayang sama orang tua?, sayang sama mamak? Pak, Buk? Adik?, sayang sama bapak?, Bapak, Ibu sayang sama Nenek?”.

“Sayaaaaang”, singkat disahut jama’ah.

“Kita buktikan ya Pak, Buk, dan juga Adik-adik yang ada disini. Kita pasti semua ingat akan 3 hal yang pahalanya, amalannya, rewardnya tak putus-putus kita dapatkan sampai setelah kita wafat. Wafat, kata yang sangat menakutkan, tapi inilah Pak, Buk. Sesuatu yang akan terjadi, tinggal waktunya saja yang kita tak tau, kita tunggu saja. Banyak yang telah mendahului kita, nak muda, nak tua, banyak yang sudah duluan. Nah kita?, apa yang telah kita persiapkan?. Baiklah, sekarang kita fikirkan sejenak akan 3 perkara ini, yang Insya Allah akan menjadi bekal berharga kita nanti ketika telah dipanggil”.

Jama’ah mulai agak serius mendengarkan tausiyah sang ustadz yang kali ini mimi’ mukanya menjadi lebih serius.

“Yang pertama? Apa Pak, Buk?. Ya yang pertama adalah ilmu, ya, ilmu yang bermanfaat. Punya ilmu, Pak, Buk, Dek?”.

“Punyaaaaaa”, sahut beberapa jam’ah.

“Sedikiiit”, sahut ibu yang duduk disampingku, menjawab dengan malu-malu tidak percaya diri.

“Punya Pak, Buk?. Punya!!, jawab punya!. Yakinlah Ibu Bapak, apalagi teman-teman dan adik-adik yang pelajar ini, Insya Allah punya!, kalau Bapak Ibu tak memiliki ilmu, mana mungkin Bapak Ibu bisa punya anak yang sarjana, punya anak yang dosen, punya anak yang ustadz, punya anak yang dokter, yang pegawai sipil, dan lain sebagainya, yah karena ilmu tadi, ilmu Bapak dan Ibu dalam mendidik anak-anak sehingga menjadi berguna sebagai manusia, itu dia ilmunya. Ibu, jangan khawatir, Bapak apalagi. Kita semua punya ilmu hanya saja bidangnya beda-beda. Sederhana saja, apa yang ibu bisa? Ibu bisa jahit?, itulah ilmu ibu, ibu bisa masak? nah itu lah ilmu ibu. Taukah ibu, ibu punya ilmu memasak, lalu ibu memasak makanan yang lezat, bergizi, dan mengenyangkan. Ibu hidangkan tiap pagi untuk anak-anak, untuk suami. Ya kan?, tau kah ibu ketika mereka memakan makanan masakan ibu, badan mereka menjadi kuat, sehat bertenaga siap untuk belajar di sekolah, menimba ilmu. Tiap hari ibu lakukan hal demikian, ketika sudah gede, nih ya, ketika sudah gede mereka menjadi anak yang cerdas, berilmu sehingga berguna bagi masyarakat, menjadi pemimpin, menjadi guru, dokter, dll. Taukah ibu, ketika mereka berbuat kebaikan dengan ilmu mereka, beramal dengan ilmu mereka maka amal ibu seketika akan bertambah, Insya Allah, walaupun ibu nanti telah tiada. Tau kenapa?, karena ilmu memasak ibu, ya karena masakan ibu dahulu, masakan yang membuat mereka menjadi anak yang cerdas sehingga berguna bagi orang banyak, karena masakan ibu mereka bisa beraktifitas, bisa belajar, ibadah dan lain sebagainya, dan bapak bisa mencari nafkah. Ya semua karena jasa ibu, banggalah menjadi seorang Ibu. Jadi sekecil, sedikit apapun ilmu yang kita miliki, ketika ia bermanfaat maka itu yang menjadi sumber pahala kita kelak yang akan mengalir terus walaupun kita telah wafat”.

“Alhamdulillah”, sahut Ibu-ibu pelan.

“Apalagi bapak, dengan ilmu kehidupannya, ilmu dari pengalamannya, ilmu profesinya, mampu membuat orang lain bermanfaat bagi sesama. Bapak mendidik anak dengan karakternya, bapak yang dosen, guru, mendidik murid-muridnya, bapak yang ustadz dengan ceramahnya, Insya Allah semua akan menjadi ladang pahala yang tak akan terputus-putus. Maka beruntunglah orang yang berilmu itu, yang memberikan manfaat bagi umat sekalian alam. Alhamdulillah Buk, Pak”.

“Dan ilmu, adik-adik juga yang sedang belajar disekolah sekarang mampu beramal dengan ilmu yang didapat. Dapat pelajaran mengenai pahala salam, ya langsung praktik, tiap hari, tiap jumpa orang, masuk rumah, ucapkan salam dulu, pahalakan tu, mendo’akan orang. Dan ilmu-ilmu itu bisa diajarkan, dan orang lain pun mengamalkannya, nambah lagi kan pahalanya. Itu baru satu ilmu, belum lagi yang lain. Ilmu matematika, ilmu fisika, kimia, dll, kita punya, lalu bisa ajarkan ke teman, adik dan rekan lain, lalu itu berguna bagi mereka, bukankah akan bertambah pahala kita lagi. Semangatlah menuntut ilmu wahai adik-adikku sekalian. Semangat. Nah, itu yang pertama, ilmu yang bermanfaat, lalu sekarang yang kedua, ingat Pak, Buk yang kedua?”.

“Amal jariyah”, sahut serentak jama’ah yang mulai terpukau dengan tausiyah ustadz yang berapi-api.

“Ya benar, kita Insya Allah disini punya amalan itu masing-masing, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Ada tadi yang infaqnya seribu, ada juga yang sepuluh ribu, seratus, bahkan ada yang diam-diam infaq sampai satu juta, terlebih apalagi sekarang masjid kita dalam keadaan renovasi, pasti semua berlomba-lomba untuk memberi infaq”.

Jama’ah manggut-manggut menikmati tausiyah ustadz yang kali ini berbeda sekali cara penyampaiannya dengan ustadz-ustadz yang lain, ustadznya masih muda dan yaaaa, lumayanlah.hihihihi

“Bagaimana tidak, ketika semua shalat di masjid ini yang kita mempunyai andil dalam pembangunannya maka amalan jariyahnya akan terus mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala dari jama’ah yang shalat, dan itu semua akan kita dapatkan terus hingga kita wafat, ya ndak Pak, Buk. Banyak sekali kalau mau kita hitung jenis-jenis amalan jariyah yang bisa diperbuat. Ibu, Bapak menyekolahkan anak, anak yatim, dan siapalah yang hendak Ibu, Bapak bantu, ataupun adik-adik sekalian bisa dengan uang lima ribu memberikan makan anak yatim, dan tiba-tiba dengan makanan itu si anak tadi mampu bekerja giat sehingga berguna untuk orang banyak, subhanallah. Ladang jariyah ini banyak sekali Pak, Buk”.

Tak terasa tujuh menit itu telah lewat, hanya saja para jama’ah sudah tak mempedulikannya lagi. Jama’ah telah terbius dengan ceramah sang ustadz.

“Aahh, si fulan bisa sekolah karena biaya dari aku dulu itu. Ah, kawan itu dulu, aku yang bantunya, sekarang jadi sombong kayak gitu. Itu tu, ambal sajadah yang aku sumbangkan kemarin, bagus kan. Oalah, ini ni yang bisa merusak amal kita Buk, terkadang pun ada yang sumbang seribu, tapi oooh, dimaki-maki pula itu si peminta. Udah sumbangnya sedikit, tapi sebutnya banyak kali. Oh, ini ni, sambil memeluk tiang masjid, ini ni aku yang sumbang dulu, sekarang bagus kan. Tak perlu seperti itu, karena hal itu yang bisa merusak amalan kita, sehingga Allah menghapus semua pahala kita Buk. Ya ayyuhalladzina amanu la tubthilu shadaqatikum bil manni wal adza. seribu-pun kita sumbang kalau ikhlas Insya Allah itu jauh lebih baik daripada kita menyebut-nyebut kebaikan yang kita lakukan walaupun satu milyar pun, akan percuma. Maka dari itu mari kita menyumbang seikhlasnya mumpung masih sempat dan apalagi di bulan penuh berkat ini, Insya Allah”. Sambil tersenyum ustadz mengakhiri perkara yang kedua.

Dan tadi yang kedua. Apa tadi, amalan yang pahalanya Insya Allah akan kita dapatkan terus walaupun kita telah wafat, pertama? Ilmu, dan yang kedua?, ya amal jariyah. Dan terakhir buk, pak, dan jama’ah sekalian. Dek, oi dek, eh mas, mas. Sayang sama emak?”

“Sayang”, jawab pemuda yang ditanyain ustadz.

“Ibu, Bapak sayang nenek?, adik sayang sama Bapak, sama Ibu?”.

“sayaaaaaaang”, sahut jama’ah kompak.

“Apa buktinya?”, jama’ah terdiam.

“Yang ketiga, yaitu do’a anak yang shaleh. Ya Allah ampunkan do’a kedua orang ku ya Allah, ya Allah sembuhkanlah Ayah, sembuhkanlah Ibu ya Allah, mereka sedang sakit, rintihan seorang anak yang cinta pada Emak Bapak. Ada lagi yang berdo’a, ya Allah jadikanlah kami keluarga yang kelak akan terus bersama di dunia dan di akhirat, di sisiMU, di surgaMu ya Allah. Inilah do’a yang memang kita sangat harapkan dikabulkan. Dan Allah itu akan kabulkan Buk, Pak, Dek. Insya Allah itu semua akan terwujud, toh yang do’a itu adalah kekasih Allah kan, kesayangan Allah, hamba-hamba Allah yang Shaleh, kenapa tidak, mudah bagi Allah untuk mengabulkan karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ujiibu da’wataddaa’i idzaa da’an. Allah itu akan kabulkan do’a hamba-hambaNya yang meminta. Dari hadist Qudsi Allah berfirman, Allah itu malu, malu ketika ada seorang hamba yang datang meminta kepadaNya sampai melinangkan air mata, sampai nangis-nangis memohon kepada Allah, dan ketika pulang tidak membawa apa-apa, Allah malu. Allah malu dikala hambaNya datang memohon kepadaNya dan hambaNya tidak memperoleh apa yang dipanjatkan. Allah malu tidak mengabulkanNya Buk, Pak. Allah akan kabulkan Insya Allah. Tapi sekarang kita lihat dulu, siapa yang berdo’a itu, hambaNya atau orang selalu ingkar sama Allah. Kalaulah hambanya yang shaleh, rajin shalat, mengaji, hafal Qur’an, menjaga diri dari perbuatan maksiat, menjaga kehormatan diri, menjaga auratnya, maka apalagi penghalang bagi Allah untuk tidak mengabulkan do’anya, ya, do’a anak yang shaleh. Dan dari pada itu, sudah seharusnya kita memperbaiki diri, menjalani kehidupan ini dengan baik, menjadi pribadi-pribadi islam dengan baik”.

Jama’ah terdiam. Merenung, termasuk aku.

“Anak yang suka berbohong, gunjing sana gunjing sini, gosip sana, gosip sini. Mengubar aurat, mencari syahwat, menentang yang Maha Dasyat, apakah mungkin Allah akan mengabulkan do’anya. Sayang sama orang tua? Nah ini lah dia saatnya, menjadi pribadi shaleh dan shalehah sehingga mampu menunjukkan cinta itu yang sebenarnya pada orang tua, ya mendo’akan orang tua, dunia dan akhirat. Ya Allah, apa ini, kenapa Engkau berikan mahkota ini kepada kami, Bertanya dua orang hamba kepada Penciptanya, mengapa Engkau berikan penghargaan ini kepada kami, Allah menjawab ‘karena kalian mempunyai buah hati yang mempelajari Al-Qur’an. Subhanallah, inilah dia bukti cinta sesungguhnya kepada orang tua itu, cinta pada Emak dan cinta pada Bapak karena Allah. Cintakah sama orang tua, dekku sekalian, Pak, Buk?

“Cintaaaaaaaa”, jama’ah menjawab, ada jama’ah yang meneteskan air mata terharu dan ada yang teringat sama orang tua yang memang sudah tiada.

“Beruntunglah Bapak, Ibuk yang memiliki anak-anak yang shaleh. Berapa anak Pak, Buk? 4, 5 atau 7?, nah kalau semua shaleh, alangkah enaknya hidup Bapak Ibuk sekalian. Marilah selagi masih ada kesempatan kita terus tanamkan kebaikan kepada diri dan anak-anak kita sehingga kedepannya lahirlah generasi-generasi yang shaleh dan shalehah di masyarakat kita”.

“aamiiiiiiiiiiiiiiiiiiin”.

“Itulah singkat tausiyah kita pada malam yang berkah ini, Insya Allah, semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan buktikan sayang itu yaaa, buk, pak, dan adik-adik semua. Lebih kurang saya minta maaf, wa billahi taufik walhidayah, wassalaamu’alaykum wr wb. Mari kita shalat tarawih.”

“wa’alaykumussalaam wr.wb”

Alhamdulillah, sungguh berkesan malam itu, tak hanya ceramah, ketika menjadi imam pun sang ustadz mampu membius semua jama’ah, kurasa tidak ada jama’ah yang  tak menangis karena bacaan shalat imam kala itu. imam sering mengulang2 bacaan dikala itu. In tu’adzdzibhum fa innahum ‘ibaduka…., jika Engkau hendak mengazab mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu juga….”. inilah bacaan yang sempat membuat jama’ah histeris menangis tak terbendung, termasuk imam. Subhanallah, itulah malam terawih terindahku selama 2 minggu ramadhan ini. Insya Allah aku akan terus memperbaiki diri, karena sayang ku pada emak dan bapak ku, karena Allah.
Sekian dulu, ry. Aku bobok dulu ya, supaya nanti mampu shalat tahajjud. Bye bye ry……

Sabtu, 11 Agustus 2012

Yang Bertargetan


Mari kita simak kehidupan mereka yang bertujuan. Mereka yang memiliki harapan. Mereka yang mempunyai impian. Yah, mereka yang memiliki visi kehidupan. Dan mereka yang punya targetan masa depan. Mereka orang kuat dengan tekad dan semangat karena mereka berhajat.
Para Ayah tak pernah henti bekerja karena mencari nafkah. Karena nafkah adalah harapan Ayah dalam penghidupan orang2 tercinta. Karena tujuan mulia, Ayah rela berlumuran darah(baca susah payah) demi keluarga.
Para Ibu tak pernah letih mengasuh buah cinta. Tak pernah letih mendidik dengan indah, tak pernah keluh kesah menjaga ananda. Karena Ibu punya impian, harap kedepan memiliki gerenasi pencetus kemakmuran, gerenasi yg diridhoi Tuhan. Ibu tak payah lelah berkeluh kesah karena punya harapan.
Para Pelajar, rela begadang karena tugas segudang. Rela tak berwaktu luang hanya untuk berdendang, rela tak bisa terlalu riang karena tujuan belum dipegang. Tujuan dan targetan gemilang melesat sampai menggapai bintang. Terus kokoh demi satu capaian, berpandangan masa depan panjang kedepan.
Para Aktivis. Makan sewaktunya bukan karena tak ada tapi memang karena puasa. Tidur sebentar bukan karena bermasalah besar tapi karena sadar tersimpuh dihadapan AllahuAkbar. Mereka jarang bertebaran tak karuan bukan karena kurang pergaulan tapi karena lagi kaji Al-Qur'an.
Mereka punya impian mulia, mereka punya targetan indah, mereka punya harapan cita.
Rela mengorbankan waktu-waktu yg percuma demi menggapai suatu impian, harapan, targetan. Yah, memang karena adanya patokan harapanlah mereka bisa berlaku demikian. Karena punya pandangan masa depanlah semua bisa mereka lakukan.
KARENA ADA VISI KEHIDUPAN KITA terus BERJALAN.

Bersedihlah yang hampa kosong dalam perbaikan dalam perubahan dalam penggapaian. Bersedihlah yang tak punya tujuan kehidupan. Visi masa depan itulah dorongan.
Maka, PASANGLAH TARGETAN INDAH KEMULIAAN untuk SAMBUT KEMENANGAN, KAWAN.
_salam ramadhan_
*Ni jargon petarung jago merah
"Pantang Pulang Sebelum Padam"
Nah sekarang, Mana jargon Kita kawan?:)
__Ahlan wa sahlan Lebaran, nah lhooo, tak sedih ditinggal ramadhan??__

Selasa, 31 Juli 2012

Naungan itu janji....


“Sudah, aku mengenalmu dengan baik, kau pun sudah mengenal watakku. Aku tahu kau tak ingin kita berpisah, aku tahu kau khawatir akan keadaanku, kau mencintaiku dan yang kau inginkan adalah terus bersama dalam perjuangan ini, dalam barisan ini. Berat memang untuk mengambil keputusan ini, tapi....”, Terdengar suara yang sangat tegas dari dalam tenda pengasingan, yang memang dibuat seadanya untuk korban penindasan kaum superior. 
“tapi kau sering terluka dan mudah sakit”. Suara parau itu membalas.
“Aku tahu hal itu, aku sadar tidak mudah untuk berlepas dari kehalusan tanganmu dalam menjaga dan merawat aku selama ini, aku tahu lemahnya diri ini yang selalu bertopang pada kegagahan jiwamu. Tapi..., yah beginilah hidup yang harus kita jalani sahabat. Sudah menjadi garis takdir perjumpaan kita ini akan berakhir, dan ini waktunya untuk itu. Kau harus paham”. Dengan menyandang ransel ia keluar dari tenda lalu hendak beranjak pergi, sedangkan laki-laki itu terdiam.
“ku sangat mencintaimu sahabat, aku mencintaimu karena Rabbku menganugerahkannya”, pecah, air mata pemuda itu mengalir deras dan seketika ia bangkit dari duduk memeluk punggung sahabatnya yang hendak pergi. tak terbayang olehnya nasib sang sahabat ini kelak.
“ku harap kita akan bersama lagi, sesuai dengan kata Nabi bahwa kita akan bersama dengan orang yang kita cintai kelak dihari tiada naungan kecauli naungan Rabbi”.
Dan laki-laki pincang itu berlalu meninggalkan sang sahabat karena telah memutuskan untuk pergi ke tanah Gaza demi menolong saudara di sana.
“apa guna hidup kalau tak berguna untuk kehidupan!!”. Kata-kata yang selalu menjadi alasan kepergian sahabat karibnya. Dan pemuda ini hanya bisa melihat dari kejauhan sahabatnya berlalu dan menghilang di ufuk padang pasir. sedang ia harus tetap tinggal demi merawat 3 putra-putranya yang terluka akibat serpihan bom bunuh diri.
“ku menanti janji naungan-Mu itu, naungan untuk hamba yang saling mencintai karena-mu Rabbi”.  Tutupnya dengan tetesan airmata.
Tidak lama kemudian terdengar kabar bahwa sang sahabat telah tewas tertembak rudal besar milik tentara negara bengis itu.

Jumat, 27 Juli 2012

Impian Bukan Sekedar Hasrat


            
SENYUM SENANG terpancar setiap hari dikala aku menginjakkan langkah ini di tempat yang akan membawaku ke sebuah mimpi, mimpi yang ku pendam lama demi mengangkat derajat dan martabat keluarga petani, mimpi be a doctor.
Dinginnya ruang kuliah bukannya mengerutkan semangatku malah membara membakar menggairahkan, sesaat aku bagaikan singa berburu mangsa. Sehabis kuliah menjelang waktu zhuhur, aku selalu mampir ke mushalla Ar-Rahmah untuk shalat berjama’ah. Dalam khusuknya berdo’a, aku curahkan semua rasa syukur ini kepada Allah, hanya kepada Allah. Air mata ini kian mengalir mengingat hujan, badai, dan petir dalam perjuanganku dahulu untuk meraih ini semua. Aku tenggelam dalam do’a mengenang masa silam. Baris demi baris, bait demi bait kisah perjuanganku terlihat jelas.
***
SAAT ITU KAMI BEDUA; yaitu aku dan Isal. Kami berdua sahabat karib, bersahabat sejak duduk dibangku Kanak-kanak. Kami selalu satu sekolah, hingga pada hari itu kami terpisah, pengumuman hasil Ujian Nasional tingkat SMP yang memisahkan kebersamaan kami. Isal diterima di sekolah favorit, sedangkan aku masuk ke sekolah yang levelnya di bawah sekolah tersebut. Tapi perpisahan itu tak terasa lama, kami dipertemukan lagi dalam satu misi, misi yang sama-sama kami pendam untuk kebahagiaan keluarga, yaitu cita-cita pribadi yang lama tersimpan.
Hari itu, hari keberangkatan kami. Dengan bekal niat dan restu orang tua kami berangkat menuju kota tempat Impian kami menggapai bintang, yaitu Yogyakarta. Dalam perjalanan aku berkata dengan nada pesimis,
“Sal, kita belum punya Ijazah dan kita belum tau nasib kelulusan kita di SMA.” Dengan percaya diri dia berkata.
“Kalau kita yakin, kita pasti akan lulus SMA maupun Perguruan tinggi, Allah itu sesuai dengan persangkaan Hambanya, jadi tenang ya Cen.
Kami tiba di Jogja sore hari. Untunglah bukan masalah, karena sudah ada kerabat Isal yang menjemput dan mengantarkan kami ke “kost” yang telah disiapkan. Kedatangan kami disambut hangat oleh yang punya rumah. Kamar yang luas dan fasilitas yang lengkap membuat aku tenang untuk belajar hari demi hari.
Semangat membara setiap pagi menjadi sarapan lezat untuk kami. Di depan rumah sudah siaga Becak yang siap membawa kami menimba ilmu, sungguh kenangan yang indah dalam perjuangan. Setiap hari kami habiskan waktu membekali diri guna menghadapi Ujian Masuk Kuliah. Ketika search di Internet kami membaca ada Ujian Masuk Bersama yang diadakan oleh 5 Perguruan Tinggi, dengan Bintangnya adalah Universitas Indonesia. Aku dan Isal pun mendaftar.
“Sal, Aku pilih UI dan UIN Jakarta, kau mengambil ke mana aja?”
“UNHAS.” dengan semangat Isal menjawab.
“Kalau kau lulus, gimana dengan UGM. Kita kan belum coba tes SNMPTN di sana?”
“Kalau lulus UMB nanti kita coba juga UGM, bukankah Universitas di kota ini Impian kita?, kecuali kalau kau masih nekad dengan Universitas Impian-mu “UI” di Jakarta sana.” Dia menyindirku.
“Oke, Insya Allah kita bisa.”
Ujianpun dimulai. Kami mengerjakan soal dengan tawakal sesuai dengan usaha yang telah kami lakukan. Hari demi hari kami lewati di Kota Pelajar ini, pengumuman pun tiba. Isal menghampiriku dengan perasaan senang tapi sedih. Pelan tapi pasti dia menghampiriku. Tampak rona haru diwajahnya karena dia melihat pengumuman bahwa aku tidak lulus, sedangkan sahabatku diterima dipilihannya.
“Apa yang akan ku kabarkan kepada kedua orang tua ku, Sal?” menetes air mata kesedihan ini.
“Tenang cen, SNMPTN masih ada, dan tahun depan pun masih ada, he..he..” dia mencoba menghibur, tapi malah membuatku makin terpuruk.
Semangat ku kian membara, kelulusan Isal menjadi cambuk buatku agar terus bangkit. Apa aku orangnya Ambisius?, Ya! untuk urusan Kebahagiaan khususnya demi orang tua, apapun akan aku lakukan. Ujian Masuk Kuliah di Penghujung tahun 2008 tiba. Aku dan Isal masih tetap dengan Obsesi lama, yaitu masuk Kedokteran UGM. Bassmallah, ujian dikerjakan.
Hari itu untuk kesekian kalinya aku dicambuk, remuk badanku melihat pengumuman ini. Aku GAGAL lagi. Isal juga tidak diterima tetapi dia sudah siap dengan hasil ini, serta siap untuk meninggalkan Jogja dan segera menuju Makasar tempat Impiannya akan diwujudkan. Sementara aku? gundah, malu dan pilu yang ku bawa pulang ke kampung.
Di Kala itu, meledak aura seorang Pemburu Cita bangkit. Aku searching di Internet, ku dapati Ujian Masuk Ba’da SNMPTN 2008 ini. aku berangkat ke Jakarta untuk tes UM UIN Syarif Hidayatullah. Belum lagi ada pengumuman, aku langsung menuju Palembang untuk mengikuti USM UNSRI karena rentang tesnya hanya beberapa hari. Setelah Ujian Semua berakhir aku kembali ke kampung lagi dengan segudang harapan. Dalam Bus Travel, aku lamunkan indahnya memakai Jaz Praktikum lalu memakai Jaz Co-Ass sambil mengalungkan stetoskop di leher. Oh…sungguh tampannya anak Ibu ini.
“Dek, kita sudah sampai.” Supir bus membuyarkan mimpiku. Supir tepat memberhentikan bus di depan rumahku.
“Terima kasih bang, sampai Jumpa lagi”.
**
“Ting-ting,ting-ting.” Handphone berdering, ada SMS masuk dari Kakak temanku. Dia mengabarkan bahwa aku LULUS, tapi tidak jelas lulus apa dan di mana. Pagi itu aku yang semangat sekali--memang tiada hari tanpa semangat untuk cita-cita--Aku menuju “Warnet” untuk memastikan kabar tersebut. Tetapi?, Kekecewaan lagi yang ku rasa. Alhamdulillah aku memang lulus di dua PTN tersebut tapi di F.Farmasi dan F.Teknik Kimia, itu tidak membuatku bahagia. Habis sudah tahun ini, meledak sudah bom air mata ini. Ibu dan Ayahku pun tak sanggup melihat kesedihan anaknya. Memang sebelumnya mereka tidak setuju aku kuliah diluar Kota Kelahiranku ini karena tak sanggup melepaskan pangeran kecil satu-satunya melalang sendirian di Kota Besar sana. Tapi melihat tekadku yang sangat kuat, diselimuti wajah yang sedih ibu berkata,
“Nak, Berangkatlah untuk ikut bimbingan. Kejarlah apa yang menjadi cita-citamu. Jangan takut akan kegagalan, Ibu dan Ayah akan terus mendo’akan.” Kakak-kakakku pun memberikan semangat.
“Bangkit dek, Bangkitkan keluarga ini. keluarga yang hidup beralaskan lumpur sawah. Angkat dek, ganti semua ini. kau bisa, bisa dan bisa!. Allah akan merubah ini semua sesuai usahamu.” Semua perkataan itu menggetarkanku.
Tiba Waktunya aku pamit, dan berangkat lagi menuju Jogja. Targetku sekarang masih tetap UGM, tapi tak menutup kemungkinan Universitas lain, yang penting jurusannya. Hari demi hari ku habiskan dengan bimbel. Grade yang ku peroleh pun makin memuaskan, aku makin optimis. Sampailah pada Ujian pertama yaitu SIMAK UI. Aku berangkat ke Jakarta, tapi itu lah Ujian sesungguhnya. Aku terdampar di Rumah Sakit. Sakitnya pun dokter tak bisa pastikan, sesak nafas seperti Maut menjemput. Sakit berlalu, beberapa hari kemudian Masuk Rumah Sakit lagi, lalu sembuh, dan kembali Masuk Rumah sakit. Sungguh ini ujian sesungguhnya, berat dan berat. Tes ku lalui dengan kondisi lemah, walhasil? Gagal lagi. Tak menyerah aku kembali ke Jogja. Bimbingan dan bimbingan lagi.
Hari mendebarkan tiba lagi, UM UGM 2009. Bassmallah aku kerjakan soal dengan santai karena soalnya telah banyak ku kuasai. Tiba pengumuman, oh…aku ditendang untuk ketiga kali dari UGM, sebelumnya UM UGM 2008 aku ikuti juga.
Hari-hari aku lalui dengan belajar dan mengikuti tes-tes di PTN dan PTS. Luar biasa semangatnya aku. Sampai ketika timbullah pertanyaan teman-temanku yang mulai pesimis melihat kondisiku, maklum mereka kasihan melihatku yang setiap hari mainannya hanya buku, obat (karena sakit-sakitan akibat tekanan) dan tes Ujian Masuk.
“Cen Kalau saja tahun ini kau gagal lagi gimana, coba?”
“Gagal, coba lagi, gagal coba lagi, kalau nggak dapat?hmm. pasti dapat.”
“Tapi cen, kalau gagal untuk semua tes dan tes telah habis?”
“Insya Allah dapat, dan pasti dapat. Aku yakin!”

Bandung, coba ku telusuri. Alhamdulillah gagal. Ke Jakarta lagi, swasta ku coba, tapi? Gagal lagi. Air mata bercucuran kian hari. Waktu terus menunjukkan batasnya di tahun ini. tapi aku?. Dengan pasrah dipenghujung 2009, aku ikut UMB lagi dengan pilihan UI, USU, UIN Jkt, dan UNSIYAH, semua ku ambil Kedokteran. Lalu setelah itu aku lanjutkan lagi pertualangan sambil menunggu hasil.
Sampai pada ketika orang tua ku telah pasrah, mereka memintaku untuk memakai jalan pintas, main belakang. Aku menolak, tapi mereka memaksa. Aku ikuti permainan mereka dengan berat hati. Hari tes itu telah dekat, hati pun makin berdegup tak jelas.
“Aku tak tenang, aku tidak inginkan yang seperti ini. jika ini yang aku ambil kenapa tidak dari dulu aku berlaku curang. Allah tunjukkan padaku jika ini salah maka gagalkanlah aku ya Allah”.
Tes ku lalui dengan berat, permainan mereka memakai Elektrik Phone gagal. Aku senang dan lalu menghapus kode komputer pada lembar jawab. Dan sudah pasti hasilnya aku gagal dalam tes. Aku sedih, dan menelpon ibu dengan segera. Aku minta maaf atas tindakkan ini. Ibu memaafkanku dan malah dia bangga.
“Lanjutkan lah Nak, Ibu terus Berdo’a untukmu.”
Aku sedih karena mendapat kabar bahwa ibu makin kurus, kulit tubuhnya mengendur akibat banyak pikiran dan beban. Maklumlah, hanya aku yang ia fikirkan siang dan malam . Semua itu makin mencambuk-cambukku.
Ujian terakhir tinggal SNMPTN 2009. Aku daftar dengan memasang sumbangan Rp.200juta, tanda keputusasaanku. Tapi Apa di kata, Allah dengan RahasiaNya yang Indah, Pengumuman UMB keluar sebelum tes itu dimulai. Dan air mata ini mengalir bagaikan pipa keran yang bocor. Alhamdulillah Allahu Akbar. Aku diterima di Universitas Sesuai Usaha Fakultas Kerja-keras. Ku kabari orang tua, mereka semua sorak syukur. Tapi teman-temanku dijogja ini, mereka kecewa. Satu dari temanku ini menangis pilu karena sudah pasti kami akan berpisah. Bagaimana tidak, dia berharap sekali terus bersama-sama. Dia yang mengantarku untuk tes ini, dan dia serta teman-teman lain juga setia menemaniku dikala aku sakit dan sehat ketika di Jogja.
Selamat tinggal UGM, bye UI. Selamat tinggal sahabat dan Jogja, aku akan merindukan kalian. Medan! Aku datang untuk duniaku yang baru.
***
Dan semangatlah menggapai apa yang dicitakan.........

Coba... Pantas ndak??


 “saya punya teman yang hobinya baca. Tiap harikerjaannya bacaaaa mulu, mulai dari baca komik, baca buku, baca majalah danlain-lain sampe-sampe lupa shalat, waah. Gimana ya caranya biar saya bisamembuat dia berubah?”, tanya putri kepada seorang sahabatnya yang cukup alim.
**
waktuitu aku pergi dengan teman, tiba-tiba ia mengajak aku ke toko baju (modis) yang memang modelnya tak ada yangsesuai dengan pakaianku sekarang.
“kok ke sini?, kan tak ada yang pas denganapa yang aku pakai”. Tanyaku pada anita. Anita lupa kalau aku sudah mengenakanpakaian serba tertutup, pakai jilbab hingga dada, rok panjang, dan koas kaki.
“eh ya, aku lupa mi. Maaf deh, piiisss. Akusebenarnya pengen memakai pakaian kayak kamu lho mi, tapi belum siap. Gmn yami?”. Anita merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.
Anitaanak yang baik, penurut, cerdas, dan cantik. Kepribadiannya mulia, hanya sajamasih ada keraguan dalam dirinya sehingga masih enggan menjalankan hukum agamasecara keseluruhan.
“kak, bagaimana ya supaya Anita bisa kuajak menjadi lebih baik khusus perihal agama dan mau menutup aurat?” tanya amikepada kakak asuhnya di sekolah.
**
“ustadz, saya sudah lamamembina adik-adik di kampus, tetapi keadaannya tidak berubah, gitu-gitu aja”,curhat andi pada guru talaqqinya.
***

Kejadiandi atas adalah hal yang biasa terjadi di kalangan aktivis kebaikan dimanapunmereka berada. Baik berlatar belakang siswa, mahasiswa, karyawan, dokter,teknisi, dan ustadz sekalipun. Ya, hal yang pasti pernah dihadapi para da’i,yaitu masalah objek binaan.

Ada sebuahkisah yang patutnya menjadi inpirasi para penyeru kebaikan, para penasihatkawan, para pendidik yang budiman, dan para wali akhir zaman. Ada seorang ‘alimulama yang pada waktu ini sedang duduk dalam sebuah majelis, mendengarkankhutbah. Ya seorang ulama, wali Allah yang sedang mendengarkan khotib dalam menyampaikantausiyah. Ketika mendengarkan tausiyah, sang ulama merasakan hal yang anehdalam dirinya, ada yang mengganjal, sesuatu yang tidak sesuai dalam dirinyatimbul. Gusar hati sang ulama sehingga membuatnya termenung dan berkata “kalaubukan khotib ini yang salah maka akulah yang bermasalah”, begitula kira-kiraredaksi yang ada ketika ulama memandang suatu permasalahan yang ada dihadapannya.

Ulama memandangsuatu permasalahan tidak hanya pada objek yang dianggapnya salah, melainkan kembalikepada dirinya sendiri pula. Apakah ia yang salah ataukah hati ini yang memangtidak siap akan menangkap suatu kebaikan itu. Hal ini penting dipahami bagipara pelaku kebaikan, penyeru kebajikan, dan wali Allah di muka bumi. Bukankah apabilaseseorang itu mendapatkan kebaikan atau hidayah melalui perantaraan kita itulebih baik daripada bumi dan seisinya, dan adalagi redaksi lain dari hadistRasul SAW bahwa kita akan mendapatkan ganjaran berupa unta merah (ibarat zamandahulu, unta merah adalah kendaraan mewah dikala itu. Nah sekarang, apalahmobil mewah yang ada di zaman ini, begitulah kira-kira ganjarannya). Suatu ganjaranyang besar yang diberikan Sang Pencipta kepada hamba. Kalaulah demikian, parapenyeru itu bijaknya merenungkan diri terlebih dahulu seperti halnya para ulamadalam memuhasabah diri.
“saya malas belajar, tetapi ingin meraih ranking satu dikelas”
“saya mah rajin do’a, minta sama Allah” tapi usaha nihil.
“saya ingin jadi dokter” tapi baca buku aja males.
“pengen masuk surga dong”, shalat nggakpernah, puasa apalagi, dan ngaji? Hmmmm, jauuuuuhhhh.
Sesuatuyang tak pantas takkan terjadi, karena hukum alam itu berlaku, sunnatullah.
“gue udah bujukin adik-adik binaan tu,tapi payah. Mereka masih pada males shalat subuh di masjid”. Gerutu seorangpembina rohis.
Coba lihat,dengar, dan rasakan. Apakah benar masalah itu terletak pada objek binaan?,ataukah diri ini yang belum siap menampung pahala sebesar itu.
Apakahdiri ini pantas mendapatkan unta merah? Apakah layak dunia dan seisinya inidianugerahkan kepada hamba yang belum............. yaaaaah gitu deh?
Hidayahadalah hak Allah, dan itu mutlak. Allah takkan memberi hidayah kepadakaum yang zhalim. Kalaulah saudara, sahabat, adik, dan siapalah objekkebaikan itu memiliki akhlak yang baik, santun, dan terpuji, sudah pasti tinggalmenunggu waktu hidayah itu akan datang kepadanya, Insya Allah. Dan sekarang, reward ini (unta merah) layak diberikankepada siapa? Yang memang menjadi perantara hidayah itu datang. Kepada kamu,aku, atau dia? Siapakah yang lebih sesuai secara iman, islam, dan ihsan untukmenerimanya.

“Malam ini ba’da ‘isya kita ‘iktikaf dimasjid ya, kakak tunggu”, ajak senior pembina-- yang memang pribadinya mulia,cerah, dan lebihnya adalah penghafal Qur’an--kepada adik binaannya, ditambah dengansenyum yang hangat. Dan ketika malam, para adik-adik ramai mendatangi sangkakak di masjid raya kota mereka.
**
“nanti ba’da zhuhur ada kajian rutintetang fiqih, datang ya”. Ajak fulan kepada rekan dan juniornya. Dan alhasil,tak ada satupun dari seorang yang dijumpainya tadi datang ke mushalla tempatkajian.


Karena sapu bersihlahyang mampu membersihkan lantai yang kotor, kalau sapu itu sendiri yang lusam,naaaaah nanti lantainya jadi gmn??

Sekian ya, salam renungandalam menyikapi hidup secara objektif. :D
Assalaamu’alaykum.

Rabu, 25 Juli 2012

Apa Artinya Dunia Kawan?

"Muhasabah"

Apalaharti dunia ini dalam hidup kita??
(mengingatkembali Sabda Rasul SAW)
 Nabi Muhammad SAW bersabda "Apa peduliku dengan dunia. aku di dunia ini takubahnya seperti musafir yang berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian padasore hari musafir itu pergi meninggalkan pohon tersebut" (HR. Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)

Allah,betapa dalamnya makna yang terkandung dalam hadist tersebut.
"Salamhangat untuk saudaraku seiman tercinta".

Baginda SAW juga bersabda "DemiAllah, bukan kemiskinan yang kukhawatirkan atas kalian. namun, yang aku khawatirkan atas kalian adalah dilapangkannya dunia bagi kalian sebagaimana dilapakangnya ia bagi umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia itu membinasakan mereka" (HR.Bukhari dan Muslim)

Dan juga,
Saat melewati seekor bangkai anakkambing di pasar, Beliau SAW mengambilnya dan memegang kedua telinganya, "Siapa diantara kalian yang mau membeli bangkai ini satu dirham?" para sahabat menjawab, "kami tidak mau membelinya dengan harga seberapapun dan apa yang dapat kami perbuat dengannya?" Rasullullah SAW menjawab, " Sungguh,Demi Allah, dunia itu lebih hina di mata Allah daripada bangkai ini di mata kalian" (HR. Muslim)

Allah, sungguh besar dan mendalam makna yang terkandung dalam hadist-hadist tersebut.
kita tentu ingat Firman Allah SWT "tidakKu ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah pada Allah" semua ruang lingkup hidup kita tidak lain untuk beribadah pada Allah. makan, minum,bermain, senyum, berjalan, berlari, duduk, tak luput lagi ibadah wajib, bahkan tidur kita pun bernilai ibadah dan banyak lagi bentuk ibadah lainnya.
Dan Allah SWT juga berfirman "DemiMasa, Manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan yang beramal shaleh, mengajarkan kebaikan dan kesabaran"

Apalah artinya dunia bagi kita, kawan??

semoga kita dalam keadaan tidak merugi di dunia dan akhirat.
Insya Allahu Khairan, Wallahua'lam.

Menangislah, terkhusus...


Mengeluarkan airmata akan meningkatkan kualitas kesehatan.
Karena bersama air mata, radikal bebas di dalam diri akan keluar. Maka untuk yang hobi ngeluarkan air mata alias nangis, berbahagialah. \^_^/

Banyak contoh keadaan yg pada akhirnya dapat meransang pengeluaran air mata. Perasaan senang, perasaan sedih, perasaan haru dan rasa bahagia yang menggelora membuat tak terasa air bening nan cantik bagai butiran kristal yg bercahaya di bawah sinar sang surya itu menetes, dan terus mengalir hingga membasahi pipi.

Ada pula lainnya ketika hati geram, kesal, menyesal, pilu, capek menunggu, perasaan resah, gundah, sesak tugas mendesak, KTI-skripsi menginjak, ujian menyentak, solusi belum juga terkuak, bla bla bla...waaah kecewa berlipat-lipat.
yaaa tidak sedikit yang akan menangis pada akhirnya. Karena pada titik puncaknya, perasaan itu akan mendorong diri untuk menangis.

Dan sekarang yang akan menangis, menangislah, menangis di hadapanNya, yang menandakan diri ini lemah (dalam hal apapun).
Pada puncak kekuatan ruhiyah diri yang dimiliki di bulan suci ini, sudah tak terhitung lagi banyak insan yang menangisi kebodohan-kebodohan diri belakangan hari. (Taubat)
:'(

_selamat menyucikan diri dalam bulan yang suci_