Jumat, 27 Juli 2012

Impian Bukan Sekedar Hasrat


            
SENYUM SENANG terpancar setiap hari dikala aku menginjakkan langkah ini di tempat yang akan membawaku ke sebuah mimpi, mimpi yang ku pendam lama demi mengangkat derajat dan martabat keluarga petani, mimpi be a doctor.
Dinginnya ruang kuliah bukannya mengerutkan semangatku malah membara membakar menggairahkan, sesaat aku bagaikan singa berburu mangsa. Sehabis kuliah menjelang waktu zhuhur, aku selalu mampir ke mushalla Ar-Rahmah untuk shalat berjama’ah. Dalam khusuknya berdo’a, aku curahkan semua rasa syukur ini kepada Allah, hanya kepada Allah. Air mata ini kian mengalir mengingat hujan, badai, dan petir dalam perjuanganku dahulu untuk meraih ini semua. Aku tenggelam dalam do’a mengenang masa silam. Baris demi baris, bait demi bait kisah perjuanganku terlihat jelas.
***
SAAT ITU KAMI BEDUA; yaitu aku dan Isal. Kami berdua sahabat karib, bersahabat sejak duduk dibangku Kanak-kanak. Kami selalu satu sekolah, hingga pada hari itu kami terpisah, pengumuman hasil Ujian Nasional tingkat SMP yang memisahkan kebersamaan kami. Isal diterima di sekolah favorit, sedangkan aku masuk ke sekolah yang levelnya di bawah sekolah tersebut. Tapi perpisahan itu tak terasa lama, kami dipertemukan lagi dalam satu misi, misi yang sama-sama kami pendam untuk kebahagiaan keluarga, yaitu cita-cita pribadi yang lama tersimpan.
Hari itu, hari keberangkatan kami. Dengan bekal niat dan restu orang tua kami berangkat menuju kota tempat Impian kami menggapai bintang, yaitu Yogyakarta. Dalam perjalanan aku berkata dengan nada pesimis,
“Sal, kita belum punya Ijazah dan kita belum tau nasib kelulusan kita di SMA.” Dengan percaya diri dia berkata.
“Kalau kita yakin, kita pasti akan lulus SMA maupun Perguruan tinggi, Allah itu sesuai dengan persangkaan Hambanya, jadi tenang ya Cen.
Kami tiba di Jogja sore hari. Untunglah bukan masalah, karena sudah ada kerabat Isal yang menjemput dan mengantarkan kami ke “kost” yang telah disiapkan. Kedatangan kami disambut hangat oleh yang punya rumah. Kamar yang luas dan fasilitas yang lengkap membuat aku tenang untuk belajar hari demi hari.
Semangat membara setiap pagi menjadi sarapan lezat untuk kami. Di depan rumah sudah siaga Becak yang siap membawa kami menimba ilmu, sungguh kenangan yang indah dalam perjuangan. Setiap hari kami habiskan waktu membekali diri guna menghadapi Ujian Masuk Kuliah. Ketika search di Internet kami membaca ada Ujian Masuk Bersama yang diadakan oleh 5 Perguruan Tinggi, dengan Bintangnya adalah Universitas Indonesia. Aku dan Isal pun mendaftar.
“Sal, Aku pilih UI dan UIN Jakarta, kau mengambil ke mana aja?”
“UNHAS.” dengan semangat Isal menjawab.
“Kalau kau lulus, gimana dengan UGM. Kita kan belum coba tes SNMPTN di sana?”
“Kalau lulus UMB nanti kita coba juga UGM, bukankah Universitas di kota ini Impian kita?, kecuali kalau kau masih nekad dengan Universitas Impian-mu “UI” di Jakarta sana.” Dia menyindirku.
“Oke, Insya Allah kita bisa.”
Ujianpun dimulai. Kami mengerjakan soal dengan tawakal sesuai dengan usaha yang telah kami lakukan. Hari demi hari kami lewati di Kota Pelajar ini, pengumuman pun tiba. Isal menghampiriku dengan perasaan senang tapi sedih. Pelan tapi pasti dia menghampiriku. Tampak rona haru diwajahnya karena dia melihat pengumuman bahwa aku tidak lulus, sedangkan sahabatku diterima dipilihannya.
“Apa yang akan ku kabarkan kepada kedua orang tua ku, Sal?” menetes air mata kesedihan ini.
“Tenang cen, SNMPTN masih ada, dan tahun depan pun masih ada, he..he..” dia mencoba menghibur, tapi malah membuatku makin terpuruk.
Semangat ku kian membara, kelulusan Isal menjadi cambuk buatku agar terus bangkit. Apa aku orangnya Ambisius?, Ya! untuk urusan Kebahagiaan khususnya demi orang tua, apapun akan aku lakukan. Ujian Masuk Kuliah di Penghujung tahun 2008 tiba. Aku dan Isal masih tetap dengan Obsesi lama, yaitu masuk Kedokteran UGM. Bassmallah, ujian dikerjakan.
Hari itu untuk kesekian kalinya aku dicambuk, remuk badanku melihat pengumuman ini. Aku GAGAL lagi. Isal juga tidak diterima tetapi dia sudah siap dengan hasil ini, serta siap untuk meninggalkan Jogja dan segera menuju Makasar tempat Impiannya akan diwujudkan. Sementara aku? gundah, malu dan pilu yang ku bawa pulang ke kampung.
Di Kala itu, meledak aura seorang Pemburu Cita bangkit. Aku searching di Internet, ku dapati Ujian Masuk Ba’da SNMPTN 2008 ini. aku berangkat ke Jakarta untuk tes UM UIN Syarif Hidayatullah. Belum lagi ada pengumuman, aku langsung menuju Palembang untuk mengikuti USM UNSRI karena rentang tesnya hanya beberapa hari. Setelah Ujian Semua berakhir aku kembali ke kampung lagi dengan segudang harapan. Dalam Bus Travel, aku lamunkan indahnya memakai Jaz Praktikum lalu memakai Jaz Co-Ass sambil mengalungkan stetoskop di leher. Oh…sungguh tampannya anak Ibu ini.
“Dek, kita sudah sampai.” Supir bus membuyarkan mimpiku. Supir tepat memberhentikan bus di depan rumahku.
“Terima kasih bang, sampai Jumpa lagi”.
**
“Ting-ting,ting-ting.” Handphone berdering, ada SMS masuk dari Kakak temanku. Dia mengabarkan bahwa aku LULUS, tapi tidak jelas lulus apa dan di mana. Pagi itu aku yang semangat sekali--memang tiada hari tanpa semangat untuk cita-cita--Aku menuju “Warnet” untuk memastikan kabar tersebut. Tetapi?, Kekecewaan lagi yang ku rasa. Alhamdulillah aku memang lulus di dua PTN tersebut tapi di F.Farmasi dan F.Teknik Kimia, itu tidak membuatku bahagia. Habis sudah tahun ini, meledak sudah bom air mata ini. Ibu dan Ayahku pun tak sanggup melihat kesedihan anaknya. Memang sebelumnya mereka tidak setuju aku kuliah diluar Kota Kelahiranku ini karena tak sanggup melepaskan pangeran kecil satu-satunya melalang sendirian di Kota Besar sana. Tapi melihat tekadku yang sangat kuat, diselimuti wajah yang sedih ibu berkata,
“Nak, Berangkatlah untuk ikut bimbingan. Kejarlah apa yang menjadi cita-citamu. Jangan takut akan kegagalan, Ibu dan Ayah akan terus mendo’akan.” Kakak-kakakku pun memberikan semangat.
“Bangkit dek, Bangkitkan keluarga ini. keluarga yang hidup beralaskan lumpur sawah. Angkat dek, ganti semua ini. kau bisa, bisa dan bisa!. Allah akan merubah ini semua sesuai usahamu.” Semua perkataan itu menggetarkanku.
Tiba Waktunya aku pamit, dan berangkat lagi menuju Jogja. Targetku sekarang masih tetap UGM, tapi tak menutup kemungkinan Universitas lain, yang penting jurusannya. Hari demi hari ku habiskan dengan bimbel. Grade yang ku peroleh pun makin memuaskan, aku makin optimis. Sampailah pada Ujian pertama yaitu SIMAK UI. Aku berangkat ke Jakarta, tapi itu lah Ujian sesungguhnya. Aku terdampar di Rumah Sakit. Sakitnya pun dokter tak bisa pastikan, sesak nafas seperti Maut menjemput. Sakit berlalu, beberapa hari kemudian Masuk Rumah Sakit lagi, lalu sembuh, dan kembali Masuk Rumah sakit. Sungguh ini ujian sesungguhnya, berat dan berat. Tes ku lalui dengan kondisi lemah, walhasil? Gagal lagi. Tak menyerah aku kembali ke Jogja. Bimbingan dan bimbingan lagi.
Hari mendebarkan tiba lagi, UM UGM 2009. Bassmallah aku kerjakan soal dengan santai karena soalnya telah banyak ku kuasai. Tiba pengumuman, oh…aku ditendang untuk ketiga kali dari UGM, sebelumnya UM UGM 2008 aku ikuti juga.
Hari-hari aku lalui dengan belajar dan mengikuti tes-tes di PTN dan PTS. Luar biasa semangatnya aku. Sampai ketika timbullah pertanyaan teman-temanku yang mulai pesimis melihat kondisiku, maklum mereka kasihan melihatku yang setiap hari mainannya hanya buku, obat (karena sakit-sakitan akibat tekanan) dan tes Ujian Masuk.
“Cen Kalau saja tahun ini kau gagal lagi gimana, coba?”
“Gagal, coba lagi, gagal coba lagi, kalau nggak dapat?hmm. pasti dapat.”
“Tapi cen, kalau gagal untuk semua tes dan tes telah habis?”
“Insya Allah dapat, dan pasti dapat. Aku yakin!”

Bandung, coba ku telusuri. Alhamdulillah gagal. Ke Jakarta lagi, swasta ku coba, tapi? Gagal lagi. Air mata bercucuran kian hari. Waktu terus menunjukkan batasnya di tahun ini. tapi aku?. Dengan pasrah dipenghujung 2009, aku ikut UMB lagi dengan pilihan UI, USU, UIN Jkt, dan UNSIYAH, semua ku ambil Kedokteran. Lalu setelah itu aku lanjutkan lagi pertualangan sambil menunggu hasil.
Sampai pada ketika orang tua ku telah pasrah, mereka memintaku untuk memakai jalan pintas, main belakang. Aku menolak, tapi mereka memaksa. Aku ikuti permainan mereka dengan berat hati. Hari tes itu telah dekat, hati pun makin berdegup tak jelas.
“Aku tak tenang, aku tidak inginkan yang seperti ini. jika ini yang aku ambil kenapa tidak dari dulu aku berlaku curang. Allah tunjukkan padaku jika ini salah maka gagalkanlah aku ya Allah”.
Tes ku lalui dengan berat, permainan mereka memakai Elektrik Phone gagal. Aku senang dan lalu menghapus kode komputer pada lembar jawab. Dan sudah pasti hasilnya aku gagal dalam tes. Aku sedih, dan menelpon ibu dengan segera. Aku minta maaf atas tindakkan ini. Ibu memaafkanku dan malah dia bangga.
“Lanjutkan lah Nak, Ibu terus Berdo’a untukmu.”
Aku sedih karena mendapat kabar bahwa ibu makin kurus, kulit tubuhnya mengendur akibat banyak pikiran dan beban. Maklumlah, hanya aku yang ia fikirkan siang dan malam . Semua itu makin mencambuk-cambukku.
Ujian terakhir tinggal SNMPTN 2009. Aku daftar dengan memasang sumbangan Rp.200juta, tanda keputusasaanku. Tapi Apa di kata, Allah dengan RahasiaNya yang Indah, Pengumuman UMB keluar sebelum tes itu dimulai. Dan air mata ini mengalir bagaikan pipa keran yang bocor. Alhamdulillah Allahu Akbar. Aku diterima di Universitas Sesuai Usaha Fakultas Kerja-keras. Ku kabari orang tua, mereka semua sorak syukur. Tapi teman-temanku dijogja ini, mereka kecewa. Satu dari temanku ini menangis pilu karena sudah pasti kami akan berpisah. Bagaimana tidak, dia berharap sekali terus bersama-sama. Dia yang mengantarku untuk tes ini, dan dia serta teman-teman lain juga setia menemaniku dikala aku sakit dan sehat ketika di Jogja.
Selamat tinggal UGM, bye UI. Selamat tinggal sahabat dan Jogja, aku akan merindukan kalian. Medan! Aku datang untuk duniaku yang baru.
***
Dan semangatlah menggapai apa yang dicitakan.........

2 komentar: