Rabu, 15 Agustus 2012

Ramadhan .... yo Ramadhan


Hallo ry, ku tulis lagi dirimu ya.. Malam kemarin aku bersama keluarga seperti biasa ry, berangkat ke masjid untuk mendirikan shalat ‘isya dan tarawih berjamaah. Alhamdulillah ry, masjid masih dikunjungi masyarakat dengan kuantitas yang makin maju, ya shaf shalatnya makin maju ke depan. Hehehe.

Seperti biasa juga ry, selepas shalat ‘isya ustadz naik mimbar untuk menyampaikan tausiyah yang subhanallah kali ini sangat menyentuh hati ku dan aku yakin hati para jama’ah yang lain juga. Ustadznya keren ry. Hihihihi

“Assalaamu’alaykum wr.wb”, salam dari ustadz yang bersemangat kala membuka tausiyah.

“Wa’alaykumussalaam wr.wb”, jawab jama’ah yang tak kalah semangatnya, termasuk aku.hihihi

“Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil’alamin, washshalatuwassalam ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, asyhadu’allaa ilaha illallah wa asyhadu’annamuhammadurrasulullah. Bapak-bapak, ibu-ibu, serta hadirin jama’ah shalat tarawih yang dimuliakan Allah, Insya Allah. Malam ini malam ke-14, Alhamdulillah kita masih bisa jumpa ya Pak, ya Buk, adik-adik sekalian. Kali ini kita ada kemajuan ya Pak, Buk, ya, maju kali. Yah, maju kali shafnya, maju ke-depan, Alhamdulillah. Saudara kita yang sedang sakit semoga cepat sembuh, yang sedang sibuk semoga dimudahkan urusannya, dan yang sedang nonton tv semoga tvnya rusak, nah loh, tidak boleh kalau yang ini. Ya pak buk ya? Tidak boleh do’a yang buruk-buruk”.

“hehehe, yaaaa”. Sahut jama’ah.

“Pak, Buk, jama’ah sekalian, saya nak Tanya sama bapak, ibu, dan hadirin sekalian ya. Sayang sama orang tua?, sayang sama mamak? Pak, Buk? Adik?, sayang sama bapak?, Bapak, Ibu sayang sama Nenek?”.

“Sayaaaaang”, singkat disahut jama’ah.

“Kita buktikan ya Pak, Buk, dan juga Adik-adik yang ada disini. Kita pasti semua ingat akan 3 hal yang pahalanya, amalannya, rewardnya tak putus-putus kita dapatkan sampai setelah kita wafat. Wafat, kata yang sangat menakutkan, tapi inilah Pak, Buk. Sesuatu yang akan terjadi, tinggal waktunya saja yang kita tak tau, kita tunggu saja. Banyak yang telah mendahului kita, nak muda, nak tua, banyak yang sudah duluan. Nah kita?, apa yang telah kita persiapkan?. Baiklah, sekarang kita fikirkan sejenak akan 3 perkara ini, yang Insya Allah akan menjadi bekal berharga kita nanti ketika telah dipanggil”.

Jama’ah mulai agak serius mendengarkan tausiyah sang ustadz yang kali ini mimi’ mukanya menjadi lebih serius.

“Yang pertama? Apa Pak, Buk?. Ya yang pertama adalah ilmu, ya, ilmu yang bermanfaat. Punya ilmu, Pak, Buk, Dek?”.

“Punyaaaaaa”, sahut beberapa jam’ah.

“Sedikiiit”, sahut ibu yang duduk disampingku, menjawab dengan malu-malu tidak percaya diri.

“Punya Pak, Buk?. Punya!!, jawab punya!. Yakinlah Ibu Bapak, apalagi teman-teman dan adik-adik yang pelajar ini, Insya Allah punya!, kalau Bapak Ibu tak memiliki ilmu, mana mungkin Bapak Ibu bisa punya anak yang sarjana, punya anak yang dosen, punya anak yang ustadz, punya anak yang dokter, yang pegawai sipil, dan lain sebagainya, yah karena ilmu tadi, ilmu Bapak dan Ibu dalam mendidik anak-anak sehingga menjadi berguna sebagai manusia, itu dia ilmunya. Ibu, jangan khawatir, Bapak apalagi. Kita semua punya ilmu hanya saja bidangnya beda-beda. Sederhana saja, apa yang ibu bisa? Ibu bisa jahit?, itulah ilmu ibu, ibu bisa masak? nah itu lah ilmu ibu. Taukah ibu, ibu punya ilmu memasak, lalu ibu memasak makanan yang lezat, bergizi, dan mengenyangkan. Ibu hidangkan tiap pagi untuk anak-anak, untuk suami. Ya kan?, tau kah ibu ketika mereka memakan makanan masakan ibu, badan mereka menjadi kuat, sehat bertenaga siap untuk belajar di sekolah, menimba ilmu. Tiap hari ibu lakukan hal demikian, ketika sudah gede, nih ya, ketika sudah gede mereka menjadi anak yang cerdas, berilmu sehingga berguna bagi masyarakat, menjadi pemimpin, menjadi guru, dokter, dll. Taukah ibu, ketika mereka berbuat kebaikan dengan ilmu mereka, beramal dengan ilmu mereka maka amal ibu seketika akan bertambah, Insya Allah, walaupun ibu nanti telah tiada. Tau kenapa?, karena ilmu memasak ibu, ya karena masakan ibu dahulu, masakan yang membuat mereka menjadi anak yang cerdas sehingga berguna bagi orang banyak, karena masakan ibu mereka bisa beraktifitas, bisa belajar, ibadah dan lain sebagainya, dan bapak bisa mencari nafkah. Ya semua karena jasa ibu, banggalah menjadi seorang Ibu. Jadi sekecil, sedikit apapun ilmu yang kita miliki, ketika ia bermanfaat maka itu yang menjadi sumber pahala kita kelak yang akan mengalir terus walaupun kita telah wafat”.

“Alhamdulillah”, sahut Ibu-ibu pelan.

“Apalagi bapak, dengan ilmu kehidupannya, ilmu dari pengalamannya, ilmu profesinya, mampu membuat orang lain bermanfaat bagi sesama. Bapak mendidik anak dengan karakternya, bapak yang dosen, guru, mendidik murid-muridnya, bapak yang ustadz dengan ceramahnya, Insya Allah semua akan menjadi ladang pahala yang tak akan terputus-putus. Maka beruntunglah orang yang berilmu itu, yang memberikan manfaat bagi umat sekalian alam. Alhamdulillah Buk, Pak”.

“Dan ilmu, adik-adik juga yang sedang belajar disekolah sekarang mampu beramal dengan ilmu yang didapat. Dapat pelajaran mengenai pahala salam, ya langsung praktik, tiap hari, tiap jumpa orang, masuk rumah, ucapkan salam dulu, pahalakan tu, mendo’akan orang. Dan ilmu-ilmu itu bisa diajarkan, dan orang lain pun mengamalkannya, nambah lagi kan pahalanya. Itu baru satu ilmu, belum lagi yang lain. Ilmu matematika, ilmu fisika, kimia, dll, kita punya, lalu bisa ajarkan ke teman, adik dan rekan lain, lalu itu berguna bagi mereka, bukankah akan bertambah pahala kita lagi. Semangatlah menuntut ilmu wahai adik-adikku sekalian. Semangat. Nah, itu yang pertama, ilmu yang bermanfaat, lalu sekarang yang kedua, ingat Pak, Buk yang kedua?”.

“Amal jariyah”, sahut serentak jama’ah yang mulai terpukau dengan tausiyah ustadz yang berapi-api.

“Ya benar, kita Insya Allah disini punya amalan itu masing-masing, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Ada tadi yang infaqnya seribu, ada juga yang sepuluh ribu, seratus, bahkan ada yang diam-diam infaq sampai satu juta, terlebih apalagi sekarang masjid kita dalam keadaan renovasi, pasti semua berlomba-lomba untuk memberi infaq”.

Jama’ah manggut-manggut menikmati tausiyah ustadz yang kali ini berbeda sekali cara penyampaiannya dengan ustadz-ustadz yang lain, ustadznya masih muda dan yaaaa, lumayanlah.hihihihi

“Bagaimana tidak, ketika semua shalat di masjid ini yang kita mempunyai andil dalam pembangunannya maka amalan jariyahnya akan terus mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala dari jama’ah yang shalat, dan itu semua akan kita dapatkan terus hingga kita wafat, ya ndak Pak, Buk. Banyak sekali kalau mau kita hitung jenis-jenis amalan jariyah yang bisa diperbuat. Ibu, Bapak menyekolahkan anak, anak yatim, dan siapalah yang hendak Ibu, Bapak bantu, ataupun adik-adik sekalian bisa dengan uang lima ribu memberikan makan anak yatim, dan tiba-tiba dengan makanan itu si anak tadi mampu bekerja giat sehingga berguna untuk orang banyak, subhanallah. Ladang jariyah ini banyak sekali Pak, Buk”.

Tak terasa tujuh menit itu telah lewat, hanya saja para jama’ah sudah tak mempedulikannya lagi. Jama’ah telah terbius dengan ceramah sang ustadz.

“Aahh, si fulan bisa sekolah karena biaya dari aku dulu itu. Ah, kawan itu dulu, aku yang bantunya, sekarang jadi sombong kayak gitu. Itu tu, ambal sajadah yang aku sumbangkan kemarin, bagus kan. Oalah, ini ni yang bisa merusak amal kita Buk, terkadang pun ada yang sumbang seribu, tapi oooh, dimaki-maki pula itu si peminta. Udah sumbangnya sedikit, tapi sebutnya banyak kali. Oh, ini ni, sambil memeluk tiang masjid, ini ni aku yang sumbang dulu, sekarang bagus kan. Tak perlu seperti itu, karena hal itu yang bisa merusak amalan kita, sehingga Allah menghapus semua pahala kita Buk. Ya ayyuhalladzina amanu la tubthilu shadaqatikum bil manni wal adza. seribu-pun kita sumbang kalau ikhlas Insya Allah itu jauh lebih baik daripada kita menyebut-nyebut kebaikan yang kita lakukan walaupun satu milyar pun, akan percuma. Maka dari itu mari kita menyumbang seikhlasnya mumpung masih sempat dan apalagi di bulan penuh berkat ini, Insya Allah”. Sambil tersenyum ustadz mengakhiri perkara yang kedua.

Dan tadi yang kedua. Apa tadi, amalan yang pahalanya Insya Allah akan kita dapatkan terus walaupun kita telah wafat, pertama? Ilmu, dan yang kedua?, ya amal jariyah. Dan terakhir buk, pak, dan jama’ah sekalian. Dek, oi dek, eh mas, mas. Sayang sama emak?”

“Sayang”, jawab pemuda yang ditanyain ustadz.

“Ibu, Bapak sayang nenek?, adik sayang sama Bapak, sama Ibu?”.

“sayaaaaaaang”, sahut jama’ah kompak.

“Apa buktinya?”, jama’ah terdiam.

“Yang ketiga, yaitu do’a anak yang shaleh. Ya Allah ampunkan do’a kedua orang ku ya Allah, ya Allah sembuhkanlah Ayah, sembuhkanlah Ibu ya Allah, mereka sedang sakit, rintihan seorang anak yang cinta pada Emak Bapak. Ada lagi yang berdo’a, ya Allah jadikanlah kami keluarga yang kelak akan terus bersama di dunia dan di akhirat, di sisiMU, di surgaMu ya Allah. Inilah do’a yang memang kita sangat harapkan dikabulkan. Dan Allah itu akan kabulkan Buk, Pak, Dek. Insya Allah itu semua akan terwujud, toh yang do’a itu adalah kekasih Allah kan, kesayangan Allah, hamba-hamba Allah yang Shaleh, kenapa tidak, mudah bagi Allah untuk mengabulkan karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ujiibu da’wataddaa’i idzaa da’an. Allah itu akan kabulkan do’a hamba-hambaNya yang meminta. Dari hadist Qudsi Allah berfirman, Allah itu malu, malu ketika ada seorang hamba yang datang meminta kepadaNya sampai melinangkan air mata, sampai nangis-nangis memohon kepada Allah, dan ketika pulang tidak membawa apa-apa, Allah malu. Allah malu dikala hambaNya datang memohon kepadaNya dan hambaNya tidak memperoleh apa yang dipanjatkan. Allah malu tidak mengabulkanNya Buk, Pak. Allah akan kabulkan Insya Allah. Tapi sekarang kita lihat dulu, siapa yang berdo’a itu, hambaNya atau orang selalu ingkar sama Allah. Kalaulah hambanya yang shaleh, rajin shalat, mengaji, hafal Qur’an, menjaga diri dari perbuatan maksiat, menjaga kehormatan diri, menjaga auratnya, maka apalagi penghalang bagi Allah untuk tidak mengabulkan do’anya, ya, do’a anak yang shaleh. Dan dari pada itu, sudah seharusnya kita memperbaiki diri, menjalani kehidupan ini dengan baik, menjadi pribadi-pribadi islam dengan baik”.

Jama’ah terdiam. Merenung, termasuk aku.

“Anak yang suka berbohong, gunjing sana gunjing sini, gosip sana, gosip sini. Mengubar aurat, mencari syahwat, menentang yang Maha Dasyat, apakah mungkin Allah akan mengabulkan do’anya. Sayang sama orang tua? Nah ini lah dia saatnya, menjadi pribadi shaleh dan shalehah sehingga mampu menunjukkan cinta itu yang sebenarnya pada orang tua, ya mendo’akan orang tua, dunia dan akhirat. Ya Allah, apa ini, kenapa Engkau berikan mahkota ini kepada kami, Bertanya dua orang hamba kepada Penciptanya, mengapa Engkau berikan penghargaan ini kepada kami, Allah menjawab ‘karena kalian mempunyai buah hati yang mempelajari Al-Qur’an. Subhanallah, inilah dia bukti cinta sesungguhnya kepada orang tua itu, cinta pada Emak dan cinta pada Bapak karena Allah. Cintakah sama orang tua, dekku sekalian, Pak, Buk?

“Cintaaaaaaaa”, jama’ah menjawab, ada jama’ah yang meneteskan air mata terharu dan ada yang teringat sama orang tua yang memang sudah tiada.

“Beruntunglah Bapak, Ibuk yang memiliki anak-anak yang shaleh. Berapa anak Pak, Buk? 4, 5 atau 7?, nah kalau semua shaleh, alangkah enaknya hidup Bapak Ibuk sekalian. Marilah selagi masih ada kesempatan kita terus tanamkan kebaikan kepada diri dan anak-anak kita sehingga kedepannya lahirlah generasi-generasi yang shaleh dan shalehah di masyarakat kita”.

“aamiiiiiiiiiiiiiiiiiiin”.

“Itulah singkat tausiyah kita pada malam yang berkah ini, Insya Allah, semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan buktikan sayang itu yaaa, buk, pak, dan adik-adik semua. Lebih kurang saya minta maaf, wa billahi taufik walhidayah, wassalaamu’alaykum wr wb. Mari kita shalat tarawih.”

“wa’alaykumussalaam wr.wb”

Alhamdulillah, sungguh berkesan malam itu, tak hanya ceramah, ketika menjadi imam pun sang ustadz mampu membius semua jama’ah, kurasa tidak ada jama’ah yang  tak menangis karena bacaan shalat imam kala itu. imam sering mengulang2 bacaan dikala itu. In tu’adzdzibhum fa innahum ‘ibaduka…., jika Engkau hendak mengazab mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu juga….”. inilah bacaan yang sempat membuat jama’ah histeris menangis tak terbendung, termasuk imam. Subhanallah, itulah malam terawih terindahku selama 2 minggu ramadhan ini. Insya Allah aku akan terus memperbaiki diri, karena sayang ku pada emak dan bapak ku, karena Allah.
Sekian dulu, ry. Aku bobok dulu ya, supaya nanti mampu shalat tahajjud. Bye bye ry……

Sabtu, 11 Agustus 2012

Yang Bertargetan


Mari kita simak kehidupan mereka yang bertujuan. Mereka yang memiliki harapan. Mereka yang mempunyai impian. Yah, mereka yang memiliki visi kehidupan. Dan mereka yang punya targetan masa depan. Mereka orang kuat dengan tekad dan semangat karena mereka berhajat.
Para Ayah tak pernah henti bekerja karena mencari nafkah. Karena nafkah adalah harapan Ayah dalam penghidupan orang2 tercinta. Karena tujuan mulia, Ayah rela berlumuran darah(baca susah payah) demi keluarga.
Para Ibu tak pernah letih mengasuh buah cinta. Tak pernah letih mendidik dengan indah, tak pernah keluh kesah menjaga ananda. Karena Ibu punya impian, harap kedepan memiliki gerenasi pencetus kemakmuran, gerenasi yg diridhoi Tuhan. Ibu tak payah lelah berkeluh kesah karena punya harapan.
Para Pelajar, rela begadang karena tugas segudang. Rela tak berwaktu luang hanya untuk berdendang, rela tak bisa terlalu riang karena tujuan belum dipegang. Tujuan dan targetan gemilang melesat sampai menggapai bintang. Terus kokoh demi satu capaian, berpandangan masa depan panjang kedepan.
Para Aktivis. Makan sewaktunya bukan karena tak ada tapi memang karena puasa. Tidur sebentar bukan karena bermasalah besar tapi karena sadar tersimpuh dihadapan AllahuAkbar. Mereka jarang bertebaran tak karuan bukan karena kurang pergaulan tapi karena lagi kaji Al-Qur'an.
Mereka punya impian mulia, mereka punya targetan indah, mereka punya harapan cita.
Rela mengorbankan waktu-waktu yg percuma demi menggapai suatu impian, harapan, targetan. Yah, memang karena adanya patokan harapanlah mereka bisa berlaku demikian. Karena punya pandangan masa depanlah semua bisa mereka lakukan.
KARENA ADA VISI KEHIDUPAN KITA terus BERJALAN.

Bersedihlah yang hampa kosong dalam perbaikan dalam perubahan dalam penggapaian. Bersedihlah yang tak punya tujuan kehidupan. Visi masa depan itulah dorongan.
Maka, PASANGLAH TARGETAN INDAH KEMULIAAN untuk SAMBUT KEMENANGAN, KAWAN.
_salam ramadhan_
*Ni jargon petarung jago merah
"Pantang Pulang Sebelum Padam"
Nah sekarang, Mana jargon Kita kawan?:)
__Ahlan wa sahlan Lebaran, nah lhooo, tak sedih ditinggal ramadhan??__